Kegunaan dan Fungsi Filsafat
Penulis : Satria Wiguna
Mata Kuliah : Filsafat Umum
Pendahuluan
Secara defenitif, filsafat yang bermakna berfikir, mencari kebenaran, atau cinta kebijaksaan tentu memiliki banyak fungsi dan manfaat. Sebab berfikir adalah media yang sangat vital dalam memperoleh kebenaran. Sebagaimana selogannya Rane Descartes, aku berfikir maka aku ada. Hal senada juga diimplementasikan dalam Islam sebagaimana konsep; “Kenalilah dirimu maka kamu akan mengenal tuhanmu”. Artinya, Islam juga sangat mengapresiasi peran akal selaku alat untuk berfikir, ringkasnya; ketika orang berfikir tentang kebenaran, orang yang merenung tentang adanya alam semesta, maka secara otomatis akan mengantarkan mereka ke sebuah kesimpulan bahwa “Diri ini ada karena ada yang menciptakan.”
Pembahasanan
Adapun kegunaan Fungfsi dan Filsafat:
1.Memperkuat Akidah
Pendapat Socrates bahwa "lebih memilih minum racun dari pada kehilangan kepercayaan (ilmu kebenaran)". Muridnya yang sengaja dihadirkan oleh dewan hakim. Socrates berkata; “Wahai muridku, jangan kira aku akan mati selamanya setelah meminum ini, dunia ini hanya persinggahan, dunia yang tidak sempurna. Saya mati hari ini namun menuju ke kehidupan yang lain, yang itu lebih baik. Apa yang dikatakan oleh Socrates menunjukkan bahwa konsep filsafatnya meyakini adanya alam lain setelah alam dunia.
Pada ajaran Islam, apa yang dijelaskan oleh Socrates memiliki kesamaan yakni adanya alam lain setelah mati yang disebut alam akhirat. Berdasarkan literatur sejarah, kehadiran sosok Socrates memang jauh sebelum Islam datang, begitu juga terpaut jauh ketika Nabi Isa diturunkan. Menunjukkan bahwa filsafat itu sangat penting dipahami oleh setiap pribadi agar menemukan kebenaran yang hakiki. Maka tidak berlebihan jika Ibnu Rusyd (Averroes) mengklaim bahwa belajar filsafat hukumnya wajib, karena Ia akan membantu nalar muslim tu sendiri berkembang meyakini Islam lebih luas, tidak sebatas karena Islam agama keturunan belaka.
2 Sumber Ilmu Pengetahuan
Menurut kamus besar, ilmu merupakan pengetahuan mengenai suatu bidang yang diformat secara bersistem menurut metode tertentu, yang bisa digunakan untuk menjelaskan gejala-gejala tertentu pada suatu bidang (pengetahuan itu). Adapun kesamaan filsafat dan ilmu diantaranya: Keduanya mencari solusi yang terbaik menyelidiki objek sedalam-dalamnya sampai ke akarnya.
Contohnya penemu Al-Khawarizmi, filsuf Islam yang merumuskan teori angka nol. Akibat ada temuannya, operasi matematika bisa terlaksana dengan efektif sebagaimana yang dinikmati saat ini. Coba bayangkan jika angka nol itu tidak ada, hampir semua operasi hitung pada matematika tidak akan berfungsi. Hal tersebut juga berakibat fatal dalam transaksi perdagangan, pembangunan, bahkan perekonomian. Setelah angka nol ditemukan, ilmu matematika berkembang dengan sendirinya, dan melupakan peran filsafat sebagai penemunya.
3.Pengubung ilmu dan Agama
Manusia, ilmu, dan teologi selalu terkait baik secara teoritik maupun pragmatis. Namun anehnya, manusia yang memahami ilmu sering bertolakan dengan teologi. Manusia yang menguasai ilmu bermakna ia sebagai konsumsi pemikiran, manusia yang memahami teologi adalah sosok pengkonsumsi keyakinan. Ini mengartikan bahwa ilmu didasari oleh akal, sedangkan teologi didasari oleh keyakinan. Sedangkan filsafat pada kuncinya ada pada usaha menemukan kebijaksanaan dalam hidup.
Contohnya dalam beragama umat muslim meyakini bahwa dzat Tuhan tidak boleh dicari. Dzat Tuhan juga tidak bisa dijelaskan, bahkan ketika Nabi Muhammad Saw telah bertemu dengan –Nya, nabi tidak bisa menjelaskan seperti apa Allah itu. Bukan berarti Nabi tidak melihat Allah, melainkan tidak ada satupun yang bisa dimisalkan dengan sempurnya dzat Allah. Tidak ada yang menyerupai Allah Swt bahkan dalam fikiran sekalipun. Sebagaimana Firman-Nya;
Jika dianalogikan, bagaimana caranya menjelaskan warna ungu kepada seseorang yang belum pernah melihat warna ungu? Manusia tidak akan mampu menjelaskan identitas ungu tersebut kecuali menunjukkan contoh warna ungu meskipun dalam wujud benda yang lain. Bayangkan, tingkat menjelaskan warna saja, manusia tidak mampu tanpa memberikan contohnya. Lantas bagaimana cara Nabi menjelaskan tentang dzat Allah Swt sementara tidak ada satupun yang bisa dmisalkan? Maka dari itu, turunlah hadis dan perintah larangan memikirkan tentang dzat Allah.
4. Mangajarkan Berpikir Kritis
Sifat kritis adalah salah satu karakter yang saat ini mendukung bagi kemajuan berfikir dan belajar. Mahasiswa di kampus misalnya, tanpa sifat kritis tentu perkuliahan akan terasa membosankan. Orang yang kritis akan selalu muncul pertanyaan demi pertanyaan yang meragukan argumentasi yang di dengar. Berangkat dari ragu maka Ia mengkritisi berbagai ide dan kebijakan sehingga menemukan jawaban yang diharapkan. Pada konteks ini, filsafat sangat memainkan perannya. Orang yang berfilsafat senantiasa memiliki sifat skeptis dan penasaran. Sebagaimana defenisi filsafat itu sendiri yang berupaya mencari kebenaran hingga ke akar-akarnya. Filsafat itu meragukan segalanya, keraguan itu membuatnya berfikir kritis dan mencari tahu alasan yang dapat menjawab rasa ragu sebelumnya. Ketika sesuatu itu tidak ditemukan lagi ‘keraguan-nya’ maka dalam filsafat itulah kebenaran.
Penutup
Kesimpulan kegunaan Fungfsi dan Filsafa bagi manusia adalah:
1.Memperkuat Akidah
2 Sumber Ilmu Pengetahuan
3.Pengubung ilmu dan Agama
4. Mangajarkan Berpikir Kritis
Referensi :
Ahmad Zainul Hamdi, Tujuh Filsuf Muslim Pembuka Pintu Gerbang Filsafat Barat Modern, (Yogyakarta, lkis pelangi aksara, 2004), hlm. 75.
Admojo Wihad, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), hlm. 99.
Achmad Gholib, Filsafat Islam, (Jakarta: Faza Media, 2009), hlm.1.