Etika dalam Menuntut Ilmu dan Mengajar

Etika dalam Menuntut Ilmu dan Mengajar
(Akhlak murid kepada guru dan akhlak guru kepada murid di era digital)

Kata ilmu berasal dari Bahasa Arab yang terdiri dari tiga huruf, yakni ‘ain, lam, dan mim. ‘Ilmu artinya mengetahui, mengenal dan memberi tanda & petunjuk. Ia merupakan bentuk mashdar dari kata ‘alima ya’lamu ‘ilman yang berantonim dari makna naqÄ«d al-jahl (tidak tahu). Karena itu, ilmu secara etimologi adalah sebagai suatu pengetahuan secara praktis yang dipakai untuk menunjuk pada pengetahuan sistematis tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan subyek tertentu.

Menurut Islam, menuntut ilmu adalah proses spiritual yang membentuk kepribadian dan karakter seseorang.

1.Niat yang Ikhlas: Dalam Islam, niat sangat penting untuk semua tindakan, termasuk belajar. Secara psikologis, motivasi intrinsik yang kuat dihasilkan dari niat yang ikhlas untuk mencari ridha Allah. Orang yang belajar dengan tulus akan lebih termotivasi untuk belajar untuk kebaikan diri dan masyarakat umum daripada untuk keuntungan pribadi.

2.Menunjukkan Kesabaran dan Ketekunan. Menuntut ilmu adalah proses yang panjang dan sulit. Dalam agama Islam, orang diajarkan untuk bersabar saat menghadapi tantangan dalam proses belajar. Kesabaran ini, di mana seseorang terus berusaha meskipun menghadapi hambatan, dikenal dalam psikologi sebagai ketahanan mental (resilience). Orang yang tekun dan sabar dalam belajar biasanya memiliki kontrol emosi yang lebih baik, mampu mengatasi stres, dan tidak mudah putus asa.

3.Rasa Rendah Hati (Tawadhu). Dalam Islam, sikap rendah hati sangat penting saat mencari informasi. Rendah hati, menurut psikologisnya, mencegah munculnya kesombongan, yang dapat mengganggu hubungan sosial dan proses belajar. Individu yang tawadhu' tidak merasa lebih unggul dari orang lain dan lebih siap untuk belajar dari siapa saja. Selain itu, perspektif ini menumbuhkan keterbukaan pikiran, atau open-mindedness, yang membuat orang lebih mudah menerima informasi baru.

4. Konsistensi dan Disiplin: Dalam psikologi, konsistensi dan disiplin sangat penting untuk mencapai tujuan jangka panjang, seperti belajar. Islam menekankan pentingnya konsistensi, atau istiqamah, dalam semua hal, termasuk belajar. Konsekuensi ini membangun kebiasaan belajar yang baik dan meningkatkan semangat untuk belajar bahkan saat kesulitan muncul. Kemampuan pengendalian diri, juga dikenal sebagai self-regulation, sangat penting untuk kesuksesan akademik dan personal.

5.Memiliki Tujuan yang Jelas untuk Mencari Ilmu: Dalam Islam, tujuan utama mencari ilmu adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah dan membantu orang lain. Secara psikologis, fokus dan motivasi belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tujuan yang jelas. Mereka yang memiliki tujuan yang kuat cenderung lebih termotivasi, lebih mampu mengatasi hambatan, dan lebih konsisten dalam mencapai tujuan mereka. Tujuan spiritual dalam mencari ilmu juga memberikan makna yang lebih dalam, yang menghasilkan kepuasan batin yang lebih besar bagi individu tersebut.

Sifat-sifat dan kode etik siswa harus diterapkan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Dengan pendapat yang berbeda-beda, berbagai tokoh pendidikan Islam menguraikan etika yang harus diperhatikan siswa saat mencari ilmu.

Menurut Imam Al-Ghazali
Sangat banyak etika dan tanggung jawab yang diberikan kepada siswa oleh al-Ghazali. Tujuh dari tanggung jawab tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlak Sangat penting bagi siswa untuk menghindari tindakan buruk, karena tindakan buruk sebanding dengan anjing secara maknawi.
  2. Harus menghindari hubungan keluarga dan kampung halaman, sehingga hati mereka hanya terikat pada pengetahuan.
  3. Menghindari sikap sombong terhadap pengetahuan dan menghindari tindakan tidak terpuji terhadap guru, bahkan jika mereka harus menyerahkan tugas mereka kepadanya.
  4. Hindari mendengarkan perselisihan manusia. Hindari bermusuhan karena dapat menodai dan membuang waktu. Selain itu, harus sabar dan tenang saat berurusan dengan orang bodoh.
  5. Mencurahkan perhatian pada ilmu akhirat, yang merupakan ilmu yang paling penting,
  6. Mendalami ilmu terpuji hingga dapat memahami hakikatnya.
  7. Hendaklah tujuan murid adalah untuk menghiasi batinnya dengan sesuatu yang akan mengantarkannya kepada Allah SWT.
Menurut Ali Bin Abi Thalib
Ali bin Abi Thalib mengatakan bahwa siswa harus memiliki enam jenis kecerdasan (dzaka'), yaitu penalaran, imajinasi, wawasan (insight), pertimbangan, dan kemampuan untuk menyesuaikan diri secara mental:
  1. Memiliki kecerdasan (dzaka'), yang terdiri dari penalaran, imajinasi, wawasan (insight), pertimbangan, dan daya penyesuaian, dan dilakukan dengan benar.
  2. Memiliki hasrat (hirsh), yaitu keinginan, gairah, moral, dan keinginan yang kuat untuk belajar sesuatu, dan tidak merasa puas dengan apa yang dia ketahui. Jika seseorang menolak untuk belajar, mereka pasti tidak akan dapat memahami dan memanfaatkan hukum ibadah sebagaimana mestinya. Jika seseorang beribadah kepada Allah Ta'ala dengan cara yang sama seperti yang dilakukan malaikat tanpa pengetahuan, maka dia termasuk dalam kategori orang yang merugi. Oleh karena itu, peserta didik harus memiliki keinginan yang kuat untuk belajar, memiliki kemampuan untuk meneliti, mengajarkan, dan mempelajari dengan baik, dan tidak merasa bosan atau malas.
  3. Mempunyai modal dan saran (bulghah) yang cukup untuk belajar. Dalam situasi seperti ini, dana dan biaya pendidikan menjadi sangat penting, dan dialokasikan untuk honor guru, pembelian peralatan sekolah, dan pengembangan pendidikan secara keseluruhan.
  4. Sabar dan tabah (ishtibar), walaupun menghadapi banyak tantangan dan hambatan, termasuk hambatan ekonomi, psikologis, sosiologis, politik, dan administratif, dia 
  5. sabar dan tabah (ishtibar). Meskipun sabar merupakan bagian dari kecerdasan intelektual yang baik, jika tidak disertai dengan kecerdasan emosional, seperti sabar ini, maka tidak akan ada hasil.
  6. Masa yang panjang (thuwl al-zaman), yang berarti belajar tanpa batas sampai akhir hayat, min mahdi ila lahdi (dari buaian sampai liang lahat).
  7. Dengan adanya petunjuk (irsyad ustadz), tidak ada salah pengertian (misunderstanding) dalam pelajaran. Seseorang dapat belajar secara autodidak, yang berarti mereka belajar sendiri tanpa bantuan orang lain. Namun demikian, pendidikan masih berpengaruh pada siswa dengan menunjukkan cara yang baik untuk belajar dari pengalaman sebagai seorang dewasa, dan yang terpenting, pendidik sebagai individu yang bertindak sebagai suri tauladan bagi siswa.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama